DINAMIKA ISLAM POLITIK DI BANTEN 1998-2020: DARI ISLAMISME KE POST-ISLAMISME

web 52
Judul

DINAMIKA ISLAM POLITIK DI BANTEN 1998-2020:
DARI ISLAMISME KE POST-ISLAMISME

Penulis Rohman
Jumlah Halaman 460
ISBN dalam proses
Harga 100.000

Sinopsis:

Apakah Islamisme selalu berakhir pada Post-Islamisme?

Banten memiliki sejarah panjang yang mempertemukan Islam, kekuasaan, ulama, pesantren, perlawanan, dan politik. Dari warisan Kesultanan Banten hingga dinamika Reformasi, Islam tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari pergulatan mengenai kekuasaan, moralitas publik, syariat, dan arah kehidupan politik.

Ketika Reformasi membuka ruang politik yang lebih luas, berbagai gerakan Islam hadir dan berkembang di Banten. Hizbullah, P3SIB, Pamswakarsa, HTI, Gerakan Tarbiyah/PKS, dan FPI menempuh jalan yang berbeda dalam menghadapi perubahan zaman. Ada yang mempertahankan ideologi sambil mengubah strategi. Ada yang mereinterpretasi gagasan tentang syariat dan negara. Ada yang masuk lebih jauh ke dalam institusi demokrasi. Ada pula yang organisasinya berakhir, tetapi jaringan dan aktornya tetap bertahan dalam arena sosial-politik.

Lantas, apakah perubahan tersebut dapat disebut sebagai Post-Islamisme?

Buku ini menawarkan jawaban yang tidak sederhana. Berdasarkan kajian terhadap enam gerakan Islam di Banten, transformasi Islamisme ternyata tidak berjalan secara linear dan tidak mengikuti satu jalur yang sama. Post-Islamisme bukanlah tahap akhir yang otomatis muncul setelah Islamisme mengalami tekanan atau kegagalan. Ia merupakan salah satu kemungkinan dari berbagai trajektori perubahan.

Dari penelitian ini muncul beberapa pola: Islamisme Adaptif, Post-Islamisme Reflektif-Normatif, Post-Islamisme Institusional-Substantif, demobilisasi organisasi, dan transformasi aktor. Pola-pola tersebut memperlihatkan bahwa perubahan strategi, reorientasi ideologi, institusionalisasi politik, transformasi aktor, dan berakhirnya organisasi dapat berlangsung secara terpisah maupun saling berkelindan.

Dengan menjadikan Banten sebagai laboratorium sosial-politik, buku ini mengajak pembaca melihat Islamisme bukan sebagai fenomena yang statis, melainkan sebagai ruang dinamika yang terus berubah mengikuti konteks sejarah, struktur politik, jaringan sosial, kepemimpinan, dan pilihan para aktornya.

Buku ini pada akhirnya menawarkan satu gagasan penting: Islamisme tidak memiliki satu jalan menuju masa depan. Ia dapat bertahan, beradaptasi, bertransformasi, masuk ke institusi, mengubah orientasi normatif, atau kehilangan bentuk organisasinya sementara jaringan dan aktornya tetap hidup.

Oleh karena itu, memahami Islam politik di Banten bukan sekadar mencari jawaban apakah sebuah gerakan masih Islamis atau sudah Post-Islamis. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ke mana gerakan itu bergerak, apa yang berubah, apa yang tetap dipertahankan, dan bagaimana perubahan tersebut membentuk wajah baru Islam politik di Indonesia?

Scroll to Top