dari Absurditas menuju Sakralitas

web 45
Judul

dari Absurditas menuju Sakralitas

Penulis

Yudistira Ananda Setiadi

Jumlah Halaman 250
ISBN dalam proses
Harga 90.000

Sinopsis:

Dari Absurditas Menuju Sakralitas mengajak pembaca menelusuri pergulatan terdalam manusia modern dalam mencari makna hidup di tengah krisis spiritual, kemajuan rasionalitas, dan kecenderungan nihilisme. Buku ini menghadirkan dialog filosofis yang mendalam antara dua pemikir besar abad ke-20, Albert Camus dan Seyyed Hossein Nasr, yang menawarkan dua horizon pemikiran berbeda mengenai eksistensi manusia, pengetahuan, dan tujuan kehidupan.

Melalui pendekatan filsafat komparatif, buku ini menunjukkan bahwa Camus membangun pandangan dunia yang berlandaskan imanensi, menolak teleologi dan esensialisme, serta memandang pengalaman langsung sebagai sumber utama pengetahuan. Konsekuensinya, manusia dipanggil untuk menciptakan nilai melalui sikap pemberontakan (révolte) terhadap absurditas kehidupan. Sebaliknya, Nasr mengembangkan metafisika sakral yang menempatkan seluruh realitas dalam tatanan hierarkis yang berakar pada Yang Absolut. Pengetahuan tertinggi diperoleh melalui intelek dan scientia sacra, sementara tujuan etis manusia adalah mencapai kesempurnaan spiritual (insān kāmil) melalui partisipasi dalam nilai-nilai objektif yang bersifat transenden.

Kontribusi utama buku ini terletak pada perumusan paradigma “dari absurditas menuju sakralitas”, yaitu sebuah pembacaan hierarkis-inklusif yang tidak mempertentangkan kedua tokoh, melainkan menempatkan pengalaman absurditas Camus sebagai tahapan eksistensial yang autentik dalam perjalanan manusia menuju pemulihan spiritual. Kehampaan, keterasingan, dan krisis makna dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai maqam keterpisahan manusia dari Asal-usul Ilahinya (Origin) yang harus dihadapi dengan keberanian dan kejujuran sebelum mencapai proses resakralisasi diri.

Dengan demikian, Camus tampil sebagai saksi paling jujur atas pengalaman manusia modern yang kehilangan orientasi transenden, sedangkan Nasr menawarkan peta metafisis untuk memulihkan kembali hubungan manusia dengan realitas sakral melalui resakralisasi pengetahuan, kehidupan, dan peradaban. Sintesis yang dihasilkan bukanlah peleburan kedua pemikiran, melainkan dialog yang saling melengkapi sehingga mampu menghadirkan jawaban filosofis yang lebih utuh terhadap krisis makna kontemporer.

Ditulis dengan landasan filsafat, metafisika, dan spiritualitas yang kuat, buku ini menjadi bacaan penting bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, maupun pembaca umum yang tertarik pada filsafat eksistensial, filsafat perennial, kajian agama, serta pencarian makna hidup di era modern. Pada akhirnya, buku ini menunjukkan bahwa perjalanan manusia tidak berhenti pada pengakuan akan absurditas, melainkan dapat berlanjut menuju penemuan kembali dimensi sakral sebagai fondasi kehidupan yang bermakna, utuh, dan transenden.

Scroll to Top