KARAWANG DALAM LINTASAN SEJARAH Sekumpulan Peristiwa hingga Destinasi Pariwisata Kota Karawang
| Judul | KARAWANG DALAM LINTASAN SEJARAH Sekumpulan Peristiwa hingga Destinasi Pariwisata Kota Karawang |
| Penulis |
Pengurus KMIK 2025 |
| Jumlah Halaman | 161 |
| ISBN | dalam proses |
| Harga | 50.000 |
Sinopsis:
Karawang bukan sekadar nama sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Barat. Ia adalah ruang sejarah yang panjang, tempat alam, kekuasaan, peradaban, dan perjuangan saling bertaut membentuk identitas yang kokoh. Dari dataran aluvial yang dibentuk Sungai Citarum hingga jejak candi kuno di Batujaya, dari pelabuhan dagang yang disebut dalam catatan Tiongkok kuno hingga panggung revolusi di Rengasdengklok—Karawang adalah simpul peristiwa yang tak pernah benar-benar sunyi.
Buku *Karawang dalam Lintasan Sejarah* mengajak pembaca menelusuri lapisan demi lapisan perjalanan wilayah ini. Dimulai dari fondasi geografisnya yang menjadikan Karawang sebagai lumbung padi nasional, pembaca diajak menyelami dinamika toponimi yang merekam jejak rawa, pelayaran, dan pertemuan peradaban. Nama “Karawang” bukan sekadar sebutan, melainkan cermin interaksi antara alam, bahasa, dan sejarah panjang Nusantara.
Jejak masa klasik terkuak melalui peran Karawang dalam jaringan kekuasaan Kerajaan Tarumanegara, serta temuan arkeologis di kawasan Batujaya yang memperlihatkan betapa wilayah ini telah menjadi pusat spiritual dan perdagangan sejak awal Masehi. Memasuki era Islam, dakwah damai Syekh Quro menandai transformasi kultural yang berpengaruh besar dalam sejarah Pasundan.
Babak berikutnya memperlihatkan bagaimana Sultan Agung Hanyokrokusumo menjadikan Karawang sebagai basis geopolitik penting dalam strategi ekspansi Mataram. Melalui misteri Piagam Tembaga Kandang Sapi, pembaca diajak memasuki ruang historiografi yang problematis—antara arsip kolonial, ingatan kolektif, dan hilangnya artefak yang disebut sebagai “akta kelahiran” Karawang.
Tak berhenti di sana, buku ini juga merekam dinamika kolonial ketika pusat pemerintahan berpindah ke Purwakarta, memperlihatkan “keterbelahan” identitas antara pesisir agraris dan selatan perkebunan. Hingga akhirnya, Karawang kembali mengukuhkan jati dirinya dalam revolusi kemerdekaan, terutama melalui peristiwa heroik di Rengasdengklok yang menjadi titik krusial menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.
Disusun secara naratif-analitis dengan dukungan referensi akademik, buku ini tidak hanya menyajikan kronologi peristiwa, tetapi juga menawarkan pembacaan kritis atas transformasi ruang, kekuasaan, dan identitas. *Karawang dalam Lintasan Sejarah* adalah undangan untuk melihat Karawang bukan hanya sebagai “kota yang dilewati”, melainkan sebagai kota yang membentuk dan dibentuk oleh sejarah Indonesia itu sendiri.
Sebuah karya yang layak dibaca oleh akademisi, pegiat sejarah, pelajar, dan siapa pun yang ingin memahami bahwa di balik hamparan sawah dan kawasan industri, tersimpan peradaban panjang yang terus hidup hingga hari ini.
